Travel Journal : Taman Nasional Gunung Gede Pangrango via Cibodas

Oct 27, 2011   //   by admin   //   Stories  //  No Comments

Saya langkahkan kaki dengan semangat ketika menapakkan kaki di Terminal Leuwipanjang-Bandung. Saat itu pukul 06.30. Seharusnya kami berangkat jam 05.00 supaya kami bisa sampai ke Cibodas-Cipanas tepat pukul 08.00. Tapi karena beberapa faktor, kami terlambat berangkat dari terminal itu dengan menggunakan bis Bandung-Sukabumi pukul 7.30. Kira-kira 2 jam kemudian kami sampai di kota Cianjur untuk kami lanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan ‘L300’, sesuai jenis mobil tersebut ke arah Puncak-Bogor. 10.55 kami sampai di depan jalan masuk Kebun Raya Cibodas. Sebagai manusia, ‘perut’ kami memanggil meminta untuk diisi. Dengan lahap kami menyantap makanan di warung makan pinggir jalan Cibodas, sambil membekali diri dengan membawa air mineral sebanyak 5 x 1.5 liter dan beberapa barang lain yang belum sempat dibeli di Bandung.

Kantor TNGGP

Setelah menunaikan sholat Jum’at, bermodal tiga ribu rupiah kami naik angkutan umum menuju pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango disingkat TNGGP.

Setelah mengurus registrasi di kantor oleh Agung, ketua tim ekspedisi, kami langsung bergerak menuju lokasi target. Untuk menguatkan hati, kami mengambil gambar dengan latar belakang gunung yang akan kami tuju.

Setelah 10 menit berjalan, kami menemui pos pertama untuk mengisi form pendataan barang/peralatan. Hal ini untuk memastikan bahwa barang yang dibawa ke ‘atas’ dibawa kembali pada saaat ‘turun’. Pukul 14.10 kami beranjak dari pos pertama berbekal doa dan semangat dengan satu tujuan, Puncak Pangrango. Diiringi riakan sungai dengan air sejernih embun menyertai perjalanan, kami menemui  objek wisata pertama yaitu Telaga Biru. Letaknya 20 menit perjalanan dari pos pertama.

Telaga Biru

Dengan melewati jembatan kayu, sampailah kami di pos persinggahan Panyangcangan. Pos ini memisahkan pelancong Air Terjun/Curug Cibeureum dan rute pendakian Gunung Gede-Pangrango. Sampai pos ini, pengunjung tidak memerlukan izin khusus pendakian dan dapat langsung  datang ke lokasi. Izin pendakian diperoleh dengan cara ‘booking’ secara online maupun datang langsung ke kantor. Hal ini memastikan kuota pendaki tidak boleh lebih dari 300 orang setiap harinya dari pintu masuk Cibodas. Selain Cibodas, ada 2 pintu masuk lainnya yaitu pintu Gunung Putri-Cipanas dan Selabintana-Sukabumi. Sebagai informasi, biaya registrasi hanya dikenakan 7,000 rupiah saja per orang. Itu sudah termasuk asuransi kecelakaan.

Rawa Gayonggong

Kontur jalan agak berbeda dengan apa yang kami lalui sebelum pos Panyangcangan. Yang ini berkontur batuan bertanah dengan tumbuhan lebih rapat. Prioritas kami sore itu adalah ‘nge-camp’ di Kandang Badak. Tempat ini sudah terkenal dijadikan camping ground bagi pendaki yang akan naik sampai ke puncak. Selain cukup luas, area ini memiliki aliran air yang menguntungkan bagi para pendaki.

Beberapa jam berjalan ‘menikmati’ handicap yang dilalui membuat badan ini merasakan derasnya aliran keringat pada tubuh kami. Oh, ya perkenalkan nama saya Fauzi, anggota ekspedisi ‘termuda’ walau umur sudah tergolong tua, namun sangat minim pengalaman. Selanjutnya Agung, seorang pengusaha IT developer di Bandung, teman SMA saya dahulu. Dia adalah ketua ekspedisi ini, dia jualah yang menyebarkan virus ‘gunung’ ini kepada banyak orang. Teman saya yang kedua adalah Ari, seorang pengusaha supplier minuman di beberapa café di Bandung, teman SMA juga. Dia juga seorang atlet pemanjat tembok dan pernah menjuarai lomba memanjat se-Bandung Raya.

Pukul 18.05 saya lihat di jam tangan digital, saatnya kami mempersiapkan senter masing-masing untuk penerangan kami, walau saat itu belum terlalu gelap. Kami terus berjalan menyusuri rindangnya pohon menjulang dan berdegupnya jantung sambil sedikit ngos-ngosan. Dalam setiap perjalanan kami sepakat untuk berhenti setiap 1 jam untuk ‘me recharge’ tubuh kami dengan minum dan makan coklat batangan. Coklat dipercaya dapat segera mengganti tenaga yang banyak hilang selama perjalanan yang sangat ‘membakar’ kalori tsb. Ternyata efeknya memang terasa.

Waktu terus berjalan, tak terasa keberadaan sang surya kian tergantikan dengan gulitanya malam. Tak ada cahaya bulan atau bintang terlihat di hutan serindang itu. Kami nyalakan masing-masing lampu senter kami. Agung berjalan di depan, kemudian saya disusul Ari sebagai ‘penyapu’. 18.30 kami berdiskusi tentang rencana semula untuk membuka tenda di Kandang Badak. Dari informasi yang kami dapat dari orang-orang yang ‘turun gunung’, Kandang Badak masih berjarak 2 jam lagi dari tempat kami berdiskusi. Saat itu kami sedang di areal sebelum Sumber Air Panas. Setelah berdiskusi cukup alot, kami memutuskan untuk tetap bergerak walau di beberapa tempat yang kami lalui banyak areal yang cocok dan banyak pula pendaki yang membuka tenda di tempat tersebut. Tapi kami tetap bergerak. 18.40 kami melewati lokasi Sumber Air Panas. Yang menegangkan kami adalah jalan yang dilalui adalah batuan yang mengalir air panas tersebut. Gelap, licin, dan panasnya jalan itu. Makanya disana disediakan tali kawat untuk menjaga pendaki supaya tidak terjatuh karena di sisi sebelah kanan kami adalah AIR TERJUN!!

Byurrr, karena licin dan gelap itu kaki Agung terjerembab ke dalam air. Panas sekali rasanya walau sudah memakai sepatu kulit semata kaki. Sempat terpikir untuk berendam di sumber air terjun ini, tapi pikiran itu buyar ketika Ari berceloteh “Ini bukan Cipanas Garut, bro..”. Pendapatnya tepat juga. Kami pun terus melanjutkan perjalanan sampai di suatu tempat kami memutuskan untuk berhenti dan membuka tenda pukul 19.15, di Kandang Batu. Malam itu kami adalah pendaki pertama yang nge-camp di Kandang Batu. Sebelumnya tidak ada. Tenda kami gelar, perlatan memasak kami keluarkan hanya untuk sekedar menyeduh kopi hitam instan yang telah kami bawa dari rumah, dan ya..mengganjal perut kami yang kelaparan setelah bergumul sekira 5 jam perjalanan.

Saya rasa sudah banyak yang sadar bahwa sebenarnya esensi ‘naik gunung’ atau outdoor activity itu adalah bukan menaklukkan alam atau gunung atau sejenisnya, melainkan menaklukkan ego, menundukkan keabsahan diri, dan sekaligus membuktikan bahwa setiap kita diberikan kekuatan untuk mampu. Betapa hebatnya Sang Maha Pencipta mendesain tubuh ini dengan segala kelengkapan, mesin, radar, monitor, layaknya mesin tercanggih di dunia tetapi ada satu hal yang tidak dipunyai mesin adalah SEMANGAT.

Setelah memenuhi kebutuhan jasmani kami, saatnya kami tidur untuk menyongsong esok, yaitu Summit of Pangrango.

Pagi menjelang, kicauan burung bersahutan disertai dingin yang menusuk kami pun membuka mata. Tidak pernah terbersit dalam pikiran kami untuk mandi bahkan menyipratkan air ke wajah  karena saking dinginnya pagi itu. Kami membuka trangia (alat pemasak berbahan bakar spirtus) untuk sekedar membuat sarapan sebagai sumber energi.

Setelah membereskan tenda dan seluruh peralatan, 8.30 kami mulai melangkahkan kani menembus jalan setapak dan belukarnya pepohonan ditambah pohon besar tumbang yang merintangi jalanan.

Sesekali kami menemukan ‘bonus’ berupa jalan mendatar atau agak menurun. 45 menit waktu berlalu kami sampai di Kandang Badak. Tempatnya lebih besar daripada Kandang Batu yang kami singgahi untuk bermalam. Banyak pendaki bermalam disana. Sambil ditunjuki arah ke puncak Pangrango oleh pendaki lain, kami melenggang menapaki jalan setapak demi setapak. Kandang Badak adalah ‘terminal’ yang memisahkan kita menuju Gunung Pangrango atau Gunung Gede.

Dari sini diprediksi sekitar 3 jam perjalanan menuju puncak. Inilah titik dimana perjalanan memiliki sudut elevasi lebih tinggi dibanding sebelumnya. Tanjakannya curam menyedot banyak energi kami. 10 menit berlalu kami memutuskan berhenti sejenak untuk melepaskan dahaga. Sambil menikmati potongan coklat batangan yang kami bawa, Ari, salah satu anggota ekspedisi mencetuskan ide supaya Agung dan saya lah yang melanjutkan sampai puncak. Kami berdua terus terang kaget karena tujuan kami dari semula adalah sampai ke puncak bersama. Ternyata ada beberapa alasan mengapa Ari berpendapat demikian. Pertama adalah kondisi Ari yang saat itu kurang fit. Beberapa malam sebelum keberangkatan, dia sibuk dengan usaha sampai larut malam. Kedua, dia berpikir kalau seandainya tim berangkat dengan tanpa beban akan dapat menghemat energi dan waktu perjalanan secara signifikan. Kami pun berunding, sampailah pada keputusan kami kembali ke Kandang Badak untuk membuka tenda untuk Ari. Dengan membawa air, jas hujan, makanan seperlunya dan tentu saja kamera, kami bersiap untuk summit attack. Ini adalah istilah ‘menuju puncak’. Beban kami saat itu menjadi satu buah tas daypack yang kami berdua sepakati dibawa dengan bergiliran.

Persimpangan Gunung Gede dan Gunung Pangrango

Terasa ringan langkah kami yang tadinya membawa beban di pundak seberat rata-rata 15-20kg/orang. Asa pun menjelang seiring tanjakan dan rintangan silih berganti. Kali ini pohon tumbang besar kian sering kami temui, jalan terjal sehingga terkadang kami harus merangkak  atau memanjat untuk melewati jalan tersebut dengan napas tersengal sekaligus excited.

Trek menuju puncak Pangrango

Satu jam berlalu, saatnya berpindah daypack ke Agung. Langkah saya terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Pohon cantigi sudah mulai kami temui. Pohon ini adalah pohon khas dataran tinggi yang tumbuh diatas 2,500 mdpl. Karakter pohon ini tegas, kuat terhadap suhu ekstrim dingin. Tumbuh menjulang ke langit membuat harapan kami tambah besar bahwa kami akan segera sampai ke puncak. Oh ya pohon ini juga pohon khas puncak suatu gunung tropis.

Senyum tersungging di bibir ketika kami berhasil menjejakkan kaki di puncak Pangrango. Puncak dengan ketinggian 3,019 mdpl membuat kami bersyukur bahwa dengan keinginan dan izinNya, kita semua mampu melewati keadaan apapun sampai di tujuan. Dari puncak Pangrango dapat terlihat kepulan kawah Gunung Gede yang memiliki ketinggian 2,958 mdpl. Gunung Gede adalah gunung yang masih aktif sedangkan Gunung Pangrango sudah tidak aktif lagi. Pemandangan yang luar biasa!!

Tidak cukup sampai disitu, kami bergegas melanjutkan perjalanan ke Alun-alun Mandalawangi. 10 menit jalan menurun dari puncak kami pun sampai di lembah Mandalawangi yang luas menghampar. Yang membuat kami kagum adalah pohoin edelweiss yang tingginya ada yang mencapai 2 meter.

Mandalawangi

Ditemani segelas minuman coklat hangat yang kami mintai air panasnya dari pendaki lain (maklum kami tidak membekali diri dengan peralatan masak), kami nikmati suasana Mandalawangi.

Hari itu Sabtu, 4 Juni ternyata akan berlangsung suatu acara kebersihan hutan yang digawangi gabungan beberapa komunitas pencinta alam. Kegiatan utamanya adalah mengumpulkan sampah di sekitar puncak dengan tujuan menjaga hutan tetap asri. Biasanya dihadiri puluhan bahkan ratusan relawan pendaki dari berbagai daerah. Acara direncanakan berlangsung sampai Minggu 5 Juni 2011.

Keputusan Ari sangat tepat dan sangat kami berdua hargai. Perjalanan yang diperkirakan 3 jam dapat dipangkas menjadi 2 jam. Pelajaran berharga dari perjalanan ini adalah tentang rasa kebersamaan yang nyata. Kebersamaan ternyata bukan berarti harus selalu bersama-sama. Kebersamaan kadang mengorbankan perasaan supaya teman yang lain dapat mencapai tujuan bersama. Inilah kebersamaan.

Setelah puas, tepat pukul 13.10 kami melenggang pulang menuju persinggahan Kandang Badak. Dengan kecepatan lumayan tinggi kami menyalip beberapa pendaki yang sama-sama turun. Kadang di beberapa tempat, beberapa kali saya terperosok terjatuh menimbulkan goresan luka di kaki berhubung saat itu saya memakai celana pendek. Pengalaman yang tidak akan saya ulangi lagi. Alasan kami berdua untuk menuruni puncak dengan kecepatan itu adalah manusiawi, yaitu perut yang lapar.

Sesampainya di tenda kami dapati makan siang yang telah dibuat Ari. Makanan pertama yang kami santap adalah goreng singkong. Lezat sekali. Selanjutnya nasi, sayur sup dan telur dadar yang mengisi perut kami.

Kami pun bersiap untuk ‘turun gunung’. Pukul 14.50 kami mulai meninggalkan Kandang Badak. Biasanya perjalanan turun memakan setengah waktu perjalanan naik. Bila total perjalanan naik kami adalah 8 jam maka kami perkirakan turun adalah 4 jam.

Sesekali kami berhenti untuk membasahi tenggorokan dan menghela napas. Sesekali pula kami terpeleset tapi bersyukur masih aman selamat. Kecepatan turun kami saat itu sedang saja karena beban pun kembali ke keadaan semula. Keringat bercucuran dan yang lebih penting lagi adalah menahan beban ini dengan mengandalkan lutut dan betis. Rasanya lemas dan bergetar. Hari semakin larut sesampainya kami di persingahan Panyangcangan. Kami berhenti untuk beristirahat sejenak dan mengeluarkan lampu senter untuk penerangan. Saat itu pukul 18.15. Perkiraan kami sih 1 jam lagi sampai di pos pertama. Ternyata perkiraan 1 jam tersebut kalau dilakukan di siang hari. Berhubung hari sudah gelap terpaksa langkah kami melambat. Sesekali kami terseok karena gelap dan letihnya badan, terutama kaki kami. Kami tapaki jalan turunan batuan itu. Terkadang tertekan rasanya melewati waktu dimana badan sudah letih, penglihatan sangat terbatas dan harapan pulang sudah tinggi tapi kok tidak sampai-sampai.

Dengan langkah terseret akhirnya 19.30 kami sampai di pos pertama dengan perasaan gembira dan amat sangat lapar. Kami labuhkan badan kami di warung untuk sekedar mengisi perut dengan beberapa gorengan dan secangkir teh manis. Ditemani hujan gerimis, kami pun pulang dengan perasaan bercampur aduk antara puas dan letih.

Suatu saat kami akan kembali.

Fauzi
Member of Expedisia

Leave a comment